Internet Semua Ada
Tuesday, May 20, 2008
Dunia Nyata, Dunia Gaib, Dunia Maya (Cyber). Mungkin saat ini begitulah pembagian ranah dunia. Dunia nyata untuk makhluk2 kasar seperti manusia, dunia gaib dihuni oleh makhluk halus, sedangkan dunia maya diisi oleh imigran kedua dunia sebelumnya. Dunia maya menjadi tempat pertengahan pertemuan antara kasar dan lembut. Dunia Maya kerap kali membuat makhluk kasar terlena.
Dunia Maya, internet, sangat luas. Kiranya tak terbatas. Berupa-rupa. Kebaikan dan keburukan tumplek blek nyaris tanpa saringan. Makhluk dunia Nyata yang kerap keblinger dengan yang ditawarkan dunia Maya. Mungkin juga karena terhasut makhluk dunia halus. Ahh siapa yang tahu.
Situs porno, ajakan ikut aliran sesat, kekerasan, sampai sarana menjual keperjakaan ada. Apalagi menjual keperawanan tentu sangatlah bisa di Internet. Koran Harian Jawapos Senin lalu (19/5) seakan menyambut hari kebangkitan Nasional yang kental dengan gerakan intelektual mengulas tentang fenomena grey chick, penjaja seks komersial yang masih berstatus pelajar SMU. Mereka, gadis bispak (bisa dipakai, red), juga memakai dunia Maya sebagai tempat pertemuan deal transaksi haramnya. Luar biasa. Amazing, mereka sudah Hi Tech, kiranya kalau dikata Mr. Habudi penjiplak Habibie dari republik BBM.
Setelah membaca halaman koran Jawapos itu malam harinya masih ditanggal yang sama (19/5) saya mendapat kuliah dari seorang dosen mata kuliah Beton. Sang dosen saat itu pamer foto gempa china. Herannya, Ia tampak lebih bersemangat menceritakan tentang bagaimana ia mendapat foto kejadian gempa china daripada menjelaskan tentang mengapa banyak bangunan china yang roboh karena gempa itu, apa ada yang salah dengan desain struktur mereka mereka?. Sang dosen ternyata mendapat foto dari internet dan mengajak segenap mahasiswanya untuk memanfaatkan google. "Saya ambil ini langsung dari internet, mudah," kata sang dosen mengajak. Mahasiswa pun dibikin kecut oleh dosen senior yang kiranya baru melek internet itu. ummmm.. Setidaknya angkatan tua pun merasakan dahsyatnya arus informasi saat ini .
Disela kuliah itu saya menengok ke alas kaki yang saya pakai. Ya, sepatu ini saya beli dari Internet. Membeli tanpa bertatap muka dengan penjual. Hanya saling kirim messege di forum milis. Melihat etalase barang dagangan di website personal penjual. Tanya ini itu lewat jalur yahoo messenger dan berakhir dengan deal harga plus ongkos kirim dari jakarta sampai surabaya. lalu terjadilah tukar menukar nomor rekening, nama, dan alamat lengkap. uang saya transfer dan sehari kemudian sepatu imitasi dari produk jepang ini pun saya kenakan. Hebatnya dunia cyber.
Tidak hanya itu, ketakjuban sang dosen yang baru melek internet itu juga bikin saya tersenyum sendiri, saya kan termasuk imigran dari dunia Nyata. Saya pecandu ranah Maya. Masih saat kuliah itu, ponsel saya bergetar, ada sms. Hahaha, ponsel itu juga saya beli dari internet. Saya beli dari pedagang keramik yang kebetulan dapat hadiah ponsel nokia 2310 brand new dari order ratusan dos keramik yang ia datangkan dari distributor. Harga yang saya dapat pun selisih seratus ribu dari harga di toko ponsel saat itu. Lumayan!
Saya pribadi memang lebih nyaman transaksi online. Barang yang saya dapat selalu memuaskan, belum pernah sekalipun saya merasa tertipu. Saya juga tak harus capek jalan keliling mall untuk mendapatkan sepatu yang cocok. atau keliling sentra gadget untuk membeli sebuah ponsel. Hemat tenaga singkat kata. Dan lagi juga bisa dibilang efisiensi waktu. Bayangkan melakukan transaksi, tawar menawar hanya dilakukan didepan monitor PC atau laptop. Bisa disambi sambil ngapain aja di rumah atau dikantor.
Siapapun penghuni dunia Nyata bisa menjadi apapun di Internet. Sekalipun menjadi pribadi yang sangat berbeda dengan siapa sebenarnya dia di dunia nyata. Mau jadi shopaholic online bisa. Jadi pedagang bisa. Jadi trader valas, forex bisa. Jadi carder yang mbobol rekening orang juga bisa. Atau mau jadi pelanggan setia grey chick juga sangat terlalu mungkin. Terserah mau memposisikan diri menjadi apa di dunia pertengahan ini. Dunia maya yang serba alias. Penuh samar-samar.
Terserah anda sekarang, di Internet semua ada. Saya berharap UU ITE yang dirancang Menkominfo dapat berjalan sebagaimana mestinya. Sehingga imigran antar dunia lebih terarah tidak keblusuk.
Separatisme, Nasionalisme NKRI Diragukan
Tuesday, August 7, 2007
TARIAN Cakalele itu membuat gempar bangsa ini. Rakyat marah. Demonstrasi terjadi, menghujat bahkan tak segan melukai siapa-siapa yang terlibat. Maluku resah. Sementara seorang mantan intelejen memaparkan kekhawatiran akan meluasnya separatisme. Lalu kemana nasionalisme? Apa membakar bendera RMS adalah kobaran dari semangat nasionalisme?
Siapa yang tidak tergelitik dengan tarian cakalele dalam acara pembukaan Hari Keluarga Nasional ke XIV di Ambon, Maluku, Jumat pagi (29/6). Sebanyak 20 orang penari sukses membuat presiden SBY yang hadir dalam acara itu geram. "Saya meminta para pelaku diusut sesuai dengan hukum yang berlaku," kata Presiden kepada tamu yang hadir, seperti dikutip dalam tempointeraktif.com.
Setelah tarian berdurasi lima menit itu, bergulirlah berbagai wacana yang hebat. Lagi-lagi Indonesia menjadi sorotan mancanegara. Isu separatisme mencuat ke permukaan. Diskusi demi diskusi pun digelar, membahas ’hantu’ separatisme itu.
Seperti yang dilaporkan detik.com (7/7), dalam diskusi Mengungkap Eksistensi Separatisme di Menara Kebon Sirih, Hendropriyono mantan kepala BIN mengungkapkan kekhawatirannya. Hendro mengutarakan saat ini separatisme diyakini sudah semakin meluas. Papua diperkirakan bakal menjadi yang kedua terlepas dari NKRI jika pemerintah tidak segera mengatasi konflik disana. Dan lima tahun lagi tidak menutup kemungkinan Borneo lepas.
Dalam diskusi lain bertema Dibawah Bayang-Bayang Separatisme yang dihelat di Mario Place Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, (7/7) detik.com melaporkan bahwa intelejen asing dianggap mempunyai andil dalam munculnya separatisme. Rakyat Maluku dan Papua kemungkinan malah tidak mudheng dengan separatisme dan tidak menginginkannya. ”Orang Maluku sudah puas dengan Indonesia. Di Papua orang juga tidak paham dengan separatisme. Yang terjadi orang-orang tertentu di kedua daerah itu dipakai orang asing untuk kepentingan mereka,” kata mantan Kasdam Trikora Brigjen Purn Rustam Kastor, seperti dilaporkan detik.com.
Yang menjadi persoalan sekarang, mengapa bisa sampai seperti itu? Separatisme meluas. Menjadi kekhawatiran pula, benarkah hanya mereka yang di wilayah timur yang tidak tahu apa itu separatisme? Atau bahkan hampir seluruh bangsa ini sudah lupa dengan kata nasionalisme? Lebih nakal lagi, muncul pertanyaan dalam diri penulis, apa yang dimaksud dalam kutipan Rustam bahwa orang Maluku sudah puas dengan Indonesia? Lalu siapa Indonesia yang dimaksud?
Teringat pula saya dengan cuplikan sajak WS Rendra berjudul Demi Orang Orang Rangkas Bitung sebagai berikut;
Bukankah kemerdekaan yang sempurna itu
adalah kemerdekaan negara dan bangsa?
Negara anda sudah merdeka.
Tetapi apakah bangsa anda juga sudah merdeka?
Separatisme Vs Nasionalisme
Separatisme politis menurut wikipedia adalah suatu gerakan untuk mendapatkan kedaulatan dan memisahkan suatu wilayah atau kelompok manusia (biasanya kelompok dengan kesadaran nasional yang tajam) dari satu sama lain (atau suatu negara lain). Masih menurut ensiklopedia online ini, istilah ini biasanya tidak diterima para kelompok separatis sendiri karena mereka menganggapnya kasar, dan memilih istilah yang lebih netral seperti determinasi diri.
Alasan ketidakpuasan terhadap pemerintahan agaknya yang membuat beberapa daerah, dengan beberapa tokoh didalamnya membangkitkan gerakan pemisahan diri dari NKRI. Mempunyai kedaulatan sendiri, mengolah sumber daya sendiri diyakini gerakan ini dapat lebih mendatangkan kemakmuran bagi rakyatnya. Memang motivasi separatisme sebagian besar karena kepentingan politik dan ekonomi. Tapi beberapa juga ada yang muncul dengan basis religius.
Bisa jadi, gerakan-gerakan separatis yang timbul di negeri ini seperti kekhawatiran Rustam karena ditunggangi oleh kepentingan asing. Tapi pemerintah juga harus intropeksi diri. Apakah nahkoda arah perjuangan pasca kemerdekaan ini sudah sesuai dengan cita-cita nasionalisme? Tercapainya keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Jangan sampai timbul polemik keraguan identitas kebangsaan. Benar kata Rendra dalam sajaknya, ”Apakah Bangsa anda juga sudah merdeka?”
Indonesia bukan hanya milik segelintir penduduk di Pulau Jawa yang notabene adalah tempat para penguasa NKRI berada. Tapi Indonesia adalah dari sabang sampai merauke, meski sudah ada gompal di Timor Timur.
Jika sudah ada perasaan Maluku itu Indonesia, Papua itu Indonesia dan lain sebagainya di NKRI adalah Indonesia, kemudian, pemerintah menjalankan pemerintahan seadil-adilnya, niscaya, hantu yang akhir-akhir ini ditakuti tak akan muncul.
Gol dari gerakan separatisme terbukti tidak selalu membawa kebaikan bagi rakyat. Tidak usah jauh menengok, negara muda Timor Leste dalam Indeks Kegagalan Negara yang disusun Fund for Peace, sebuah organisasi penelitian independen di Washington, Timor leste berada di urutan ke-20 dalam kategori berbahaya.
Negara-negara muda yang terbentuk dari perpecahan terbukti punya kesulitan untuk tetap eksis. Dan, itu bisa menjadi pelajaran bagi bangsa ini untuk lebih menghargai suatu kesatuan dan mengerti betul nasionalisme. Salah satu cara pendekatan yang biasa digunakan untuk membangkitkan semangat nasionalis adalah dengan melacak kembali atau flashback sejarah bangsa ini sebelum mencapai kemerdekaan hingga sekarang. Mulai dari perjuangan kedaerahan, lahirnya Budi Utomo, Sumpah Pemuda, lalu Proklamasi yang menggetarkan dan sampai pada masa ini.
Akan tetapi perlu digarisbawahi, paham nasionalisme yang mendasari kesatuan bangsa hendaknya tidak dikotori dengan pemahaman sempit. Nasionalisme tidak hanya ditujukan pada pengabdian pada negara politis. Nasionalisme bukan paham yang membela mati-matian suatu negara, benar atau salah negara itu. Karena itu hanya akan menimbulkan kejahatan baru, rasialisme dan pengangkangan terhadap kemanusiaan, kebenaran dan keadilan.
Kebangkitan Nasional
Sebagai generasi penerus, diakui penulis, saat ini kata nasionalisme masih jauh diawang awang. Untuk sekadar pengertian nasionalisme sesuai dengan kamus besar bahasa Indonesia, tentu generasi muda sudah hapal betul. Nasionalisme merupakan paham atau ajaran untuk mencintai BANGSA dan NEGARA sendiri. Tapi pengertian yang sederhana tersebut agaknya sudah terkotori dan menempatkan nasionalisme sebagai suatu ideologi yang hanya dimiliki kaum elite nasionalis yang memiliki pengetahuan lebih banyak tentang terbentuknya negara ini. Dan akhirnya menjadi sebuah hal ekslusif mendukung kepentingan kelompok tertentu.
Untuk itu harus segera diluruskan, bahwa nasionalisme adalah wacana publik dan lepas dari institusi negara. Setiap orang bebas ber-ekspresi kreatif terhadap wacana nasionalisme. Sehingga demokrasi tercapai dan kemerdekaan seutuhnya milik bangsa dan negara.
Saya sangat yakin, nasionalisme tidak mati dalam jiwa bangsa ini. Hanya saja sebagian tertidur karena terlena dengan keadaan. Dibutuhkan kebangkitan semangat nasionalisme dalam tiap individu di NKRI.
Ada yang menarik dari perbincangan saya dengan pak Yono tukang sol sepatu di daerah Waru-Sidoarjo, beberapa pekan sebelum insiden tarian cakalele. Perbincangan untuk mengusir rasa bosan menunggu sepatu kets butut keluaran converse dipermak. Perbincangan yang membuka mata, wong cilik bisa menjadi sang guru bijak. Rakyat Indonesia tidak bodoh, dan sangat rindu cita-cita kemerdekaan.
Sangat sopan dan hati-hati. Sang guru itu selalu memaparkan uneg-uneg dengan ‘nuwun sewu’. Mulai dari memaparkan tentang kehidupan yang tidak dapat diterka, hingga kadaan bangsa saat ini. ”Nuwun sewu. Semua itu berasal dari pribadi masing-masing. Yen kabeh podo mboten mikirno awake dewe-dewe, saling sayang, saling dukung, Insya Allah Indonesia saget maju,” kata sang guru.
Menakjubkan! Itulah unsur yang hilang dalam NKRI, perasaan saling sayang, saling dukung dan tidak egois. Seakan kita sudah lupa bahwa tanah air kita satu Indonesia, bangsa kita satu Indonesia, dan kita berbahasa satu Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya slogan di pita yang dibawa Garuda. Tapi sebagai pengingat kita, ditengah iklim multikultural ini memang sangat rawan dengan perpecahan.
(ini opini saya yang muat di ITSOnline, 10 Mei 2007)
Mimpi Bolang akan Rimba Nusantara
WAJAR jika manusia memimpikan suatu hal. Bisa saja harapan dalam mimpi itu terwujud kenyataan, atau bisa juga hanya sebatas mimpi yang tak kesampaian. Di sini penulis berusaha mengungkapkan kegalauan, pemikiran dengan semangat berlebih tentang mewujudkan mimpi. Kata orang semua berawal dari mimpi. Mari bermimpi sebuah petualangan di alam rimba Indonesia. Sedikit ruwet, tapi itulah mimpi.
Pernah melihat acara televisi berjudul Bocah Petualang (Bolang)? Ya, acara ini memang disuguhkan salah satu televisi swasta. Tayangan berdurasi singkat sekitar 30 menit itu menceritakan petualangan anak-anak bermain di alam bebas. Melihat aksi Bolang; berenang, memancing ataupun memainkan permainan tradisional sambil tertawa ceria, sangat memikat. Termasuk saya, berani memberi rating tinggi, secara personal, dan menempatkannya sebagai acara wajib tonton kala santap siang. Dan itu tak lain karena, Bolang membawa virus mimpi. Mimpi akan petualangan.
Memasuki hutan, menyusuri sungai dan menombak ikan memang aktivitas yang ada diangan-angan kita, yang kebanyakan hidup didunia serba modern, sibuk dengan hirukpikuk kota metropolitan. Orang seperti kita mungkin harus puas hanya dengan Bolang yang masih mengumbar mimpi dan harapan akan petualangannya.
Ya, karena manusia semakin jauh dari peradaban serba natural. Kita memang dikepung dengan modernisasi. Namun dirasa akan semakin jauh dan jauh mewujudkan mimpi itu .....
Hingga kabar yang menyedihan, buyarkan semua mimpi, dicoreng muka bangsa Indonesia. Seperti yang dilansir Jawa Pos 4 Mei 2007 lalu, berita di halaman depan yang berjudul RI Masuk Rekor Dunia Negara Perusak Hutan. Berita yang disajikan lengkap dengan grafis bar chart tingkat kerusakan hutan ini membuat miris dengan posisi pertama barchart di pegang Indonesia yang dikenal dengan negri elok nan permai.
Data yang dilansir FAO, Global Forest Resources Assestment itu menunjukkan betapa parahnya hutan di Indonesia, dengan laju penggundulan hutan 1.8 juta hektar per tahun dan tingkat kehancuran hutan 2 persen per tahun. Mengerikan!
Rencana Guiness World Record memasukkan Indonesia sebagai negara tingkat kehancuran hutan tinggi berdasarkan data temuan yang dipublikasikan FAO memang menuai protes, terutama dari instansi terkait Republik kita. Departemen Luar Negeri, seperti yang dilansir Kompas 5 Mei 2007, mempertanyakan keabsahan data FAO.
Senada dengan Deplu, Departemen Kehutanan RI yang seakan tidak rela areal kerjanya disinggung, dengan mengatakan FAO tidak adil dalam penilaian dan semata-mata ingin menjelekkan Indonesia dimata Internasional. Luar biasa protes pemerintahan RI, sampai juru bicara Deplu RI, Kristiarto Legowo berani mengkritik balik negara maju yang lebih dulu memberangus hutan melalui gempita revolusi industri.
Luar biasa berani pemerintah kita mempertahankan aib yang memang nyata ada agar tidak banyak orang tahu. Meski entah penonton (rakyat) harus berpihak pendapat yang mana. Ya, semua terkait pertentangan kepentingan, pertentangan data perhitungan tabulasi yang kebanyakan penonton awam. Meskipun sudah cukup banyak organisasi bertema Lingkungan Hidup berkoar ”Save our Forest, Save your Life”, namun tetap saja banyak penonton awam.
Tinggalkan masa lalu
Modernisasi seakan lupa asal-usulnya, membabi-buta babad moyangnya (primitif). Semua yang harus cepat, hemat dan menguntungkan tak hiraukan jerit pohon yang ditebas demi perluasan pabrik, yang katanya juga untuk kesejahteraan, kurangi pengangguran. Cukup puas juga saya terbawa mimpi oleh novel berjudul Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer, dimana menyebutkan keberadaan harimau kumbang berbulu mengkilat seperti baja, di daerah Tulangan Sidoarjo.
Sayang, macan kumbang itu tak akan pernah saya jumpai. Macan Jawa tinggal sejarah. Dikisahkan Toer, zaman itu galak-galaknya sistem tanam paksa. Tebu menjadi komoditi menjanjikan, pribumi pun ditindas. Sawah ladang disulap jadi perkebunan tebu, dengan sewa rendah. Begitu pula hutan-hutan di tanah Jawa tempat tinggal raja rimba, diberangus, demi manisnya gula.
Itulah kisah-kisah peninggalan kepulan mesin uap bertajuk revolusi industri. Ekspansi besar-besaran bangsa maju (yang sudah dapat mengarungi samudra) untuk mencari bahan baku industri jugalah yang mengantarkan negeri berjulukan Zamrud Khatulistiwa ini pada kepedihan zaman kolonial.
Trend baru berlomba-lomba menjadi penemu alat-alat modern untuk memudahkan pekerjaan, semakin mempercepat hilang ingatan manusia pada sahabat karibnya alam. Memang belum ada di zaman itu penelitian berbasis ramah lingkungan. Bahkan bisa dipastikan belum terpikir kesana. Semua yang mengeluarkan asap itu modern! Itu hebat!
Memang berani sikap pemerintahan RI mengkritik FAO berdasarkan data dan sejarah (revolusi industri). Tapi hal tersebut tidaklah pantas dan emosional. Bisa jadi hanya protes segelintir saja, karena merekalah yang punya data dan hapal betul akan sejarah. Lalu mana yang lain? Pro FAO kah, supaya RI bisa menjajal indahnya memegang rekor dunia?
Tinggalkan masa lalu, anggap sejarah. Maksudnya disini, jangan biarkan hutan menunggu kesakitan melihat tiap harinya, sementara sibuk bercuap pertahankan gengsi. Konsentrasi berusaha mencari penyembuhan dan pengobatan lebih baik daripada meratap keluh bukan. Kalaupun borok tak dapat sembuh total kembali sedia awal, kiranya sudah berhasil memperlambat infeksi ke organ yang lain. Kepunahan mungkin, kepunahan umat manusia jika terlambat.
Wujudkan mimpi
Menyelamatkan hutan Indonesia dari kehancuran memang bukanlah hal yang mudah. Hutan Indonesia yang jutaan hektar telah terlanjur di-cap internasional sebagai paru-paru dunia. Jika boleh berandai mengerikan, seperti menyelamatkan raksasa baik hati yang telah digerogoti penyakit kronis. Dokter dari spesies manusia tak tahu mulai dari mana menancapkan jarum suntiknya. Jarum pun tak mampu menembus kulit raksasa yang alot karena zaman.
Kata orang, semua berawal dari mimpi. Butuh manusia-manusia yang selalu rindu akan petualangan Bolang. Dibutuhkan gelombang generasi penyelamat! -sengaja tidak disebut generasi penerus. karena penulis khawatir justru meneruskan kerusakan yang ada-, ditengah maraknya ajakan gaya hidup konsumtif yang dipaparkan media dan minimnya ajakan penuh untuk sayangi lingkungan.
Selama ini sudah banyak sekali sekolah-sekolah dasar mengajarkan muridnya untuk menyayangi alam, dengan disertai kegiatan outbond menanam bibit pohon. Tapi nyatanya tak berhasil meresap, pelajaran menanam pohon seakan hanya diperuntukkan untuk bocah SD dan hobiis tanaman. Untuk saat seperti ini, sangat butuh aksi dari pemerintah, segenap lembaga terkait dan masyarakat menampilkan ajakan secara serentak menyelamatkan hutan ini.
Masih banyak orang awam akan bencana global yang lebih parah jika kerusakan terus berlanjut. Selama ini masyarakat hanya tahu hutan gundul mengakibatkan; longsor, banjir, dan kekeringan. Lalu apa pula global warming (Pemanasan Global)? Banyak yang tak tahu.
Penyebab gundulnya hutan di negeri ini ada tiga hal utama. Yakni illegal logging, legal loging dan kebakaran hutan. Kehancuran hutan yang tinggi ini juga memberikan dampak pada sumbangan emisi gas rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global. Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi (disadur dari Wikipedia). Salah satu efek pemanasan global, kenaikan permukaan laut, yang berarti tenggelamnya daratan.
Memang tak cukup hanya ajakan. Semua dituntut pro aktif. Terlebih pemerintah harus sangat fight. Diharapkan pemerintah tidak hanya membuat peraturan dan keputusan terkait masalah ini. Pemerintah memang saat ini telah berkomitmen memberantas ilegal logging dan melakukan gerakan rehabilitasi hutan.
Tapi hal itu belum lah nyata terbukti berhasil, masih banyak kasus ilegal logging yang terjadi dan kerusakan hutan makin bertambah. Sangat perlu saat ini pemerintah bertindak tegas terhadap perusahaan industri kayu yang sudah tidak layak operasi. Tegas dalam hal ini menutup industri yang tidak layak. Telah diketahui, laju produksi alam untuk memenuhi kebutuhan industri kayu sangatlah lambat. Tak sebanding dengan laju produksi industri kayu menghasilkan produk, sehingga masih terjadilah penebangan liar.
Ijin penebangan hutan yang diberikan pemerintah kepada Industri juga perlu dikaji ulang. Tak perlu, saat krisis hutan seperti ini, pemerintah mengeluarkan ijin baru lagi. Pemberlakuan moratorium logging (jeda penebangan hutan) yang saat ini ramai digembar-gemborkan aktifis lingkungan hidup, pemerintah harus segera melakukannya.
Peran pemerintah dalam proyek kebangkitan hutan Indonesia ini, tentunya juga harus didukung semua individu. Jika perlu buat agenda nasional dimana dimulainya langkah baru dan serius atasi masalah ini. Bisa jadi pula hari itu menjadi hari kebangkitan hutan nasional yang akan dikenang sepanjang sejarah Indonesia.
Ya, kepada semua individu mari mulailah bermimpi, lalu bangkit tanam bibit. Bayangkan penerusmu kelak riang bergelayot ala Bolang memakan buah di pohon hasil bibit itu. Sekarang, selamat merintis sebagai individu generasi penyelamat!
(ini opini saya yang muat di ITSOnline, 16 Mei 2007)
